Rabu, 23 April 2014

Regret

Stasiun Seoul tampak ramai ketika Lala tiba. Dengan satu koper besar berwarna pink cerah dan tas panjang tempat uang dan beberapa benda elektronik miliknya, mampu membuat semua orang mengira kalau ia bukan warga asli negara ginseng tersebut.

Lala mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Baru pertama kali ini ia ke Korea dan sekarang ia tak tahu harus kemana.

Kakinya melangkah ke kanan, berjalan lurus mengikuti arah orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Dan ia harus kecewa, karena saat ini ia hanya menemukan berbagai macam kedai makanan dan minuman.

Dengan putar balikan badan 180° derajat,  kakinya berjalan kembali ke tempat awal semula ia berada.

"Excusme, can i help you?"

Sebuah suara mengusik telinganya dan membuatnya menoleh. Seorang pria dengan wajah yang tidak bisa di bilang seperti wajah orang korea yang mempunyai mata sipit dan kulit putih, menawarkan bantuan.

Lala memandang pria di depannya itu dari atas-ke bawah. Sepertinya ia bukan warga sini. Gumamnya tak yakin.

"Maaf, kau orang Indonesia?" Tanya pria itu lagi dengan senyuman lebar.

"Eh? Kau orang Indonesia juga?" Lala balas bertanya. Tidak menjawab pertanyaan pria itu.

Sang pria mengangguk dan mengulurkan tangannya "Alendra. Siapa namamu?" Tanyanya.

Lala melihat pria bernama Alendra itu dengan tatapan agak ragu. Kata ibunya, ia tak boleh sembarangan mengenalkan dirinya dengan orang yang tak di kenalnya. Berbahaya. Apalagi ini bukan di negaranya sendiri.

"Aku bukan penjahat." Alendra tersenyum.

Lala menggangguk dan membalas uluran tangan Alendra. Bibir mungilnya membentuk senyum tipis.

"Aku Lala."

-

"Jadi kau kesini mencari sahabatmu?" Tanya Alendra sembari merapikan bajunya yang kusut. Saat ini kalian sedang berada di salah satu kedai makanan di area stasiun.

"Hm, begitulah. Oh ya, apa aku boleh memanggilmu Alen? Kurasa, nama Alendra terlalu panjang." Sahut Lala dengan tangan melambai ke salah satu pelayan kedai makanan tersebut.

"Tentu." Ujar Alen. "...hotdog satu ya, sambalnya yang banyak." Katanya lagi ke pelayan.

"Aku ramen saja. Dan satu botol air mineral." Kata Lala ke arah pelayan yang berdiri di depannya.

"Wow, kau bisa bahasa korea?" Alen bertanya dengan takjub. "...bicaramu lancar sekali."

Lala mengangguk pelan. "Ayahku orang korea. Jadi aku mengerti. Dari kecil aku sudah di ajarkan 2 bahasa sekaligus. Indonesia dan korea."

-

Alen berjalan santai di belakang Lala yang tampak kagum melihat pemandangan apik di kanan-kiri jalan raya yang saat ini ia lewati. Mulutnya tak berhenti menggumamkan kata 'oh' 'wah' 'lucu sekali' 'bersihnya' 'warnanya cerah' dan banyak pujian lainnya.

"Hey belok kanan, jangan lurus nanti kau tersesat." Alen sedikit berteriak saat menyadari Lala semakin jauh berjalan lurus di depannya. Tangannya melambai, dan Lala langsung berlari memutar badan menuju ke arahnya.

"Kenapa tidak bilang daritadi huh." Katanya kesal. "...koper ini berat." Sambungnya lagi.

Alen tertawa mendengar nada bicara Lala yang terkesan lucu dan nyaring itu. Tangannya ia arahkan ke hidungnya, lalu memencetnya dan berkata persis dengan apa yang Lala katakan tadi.

"Kenapa tidak bilang daritadi huh, koper ini berat. Hahahaha cempreng sekali suaramu~"

Lala mengerucutkan bibirnya kesal. Tangannya menjewer telinga lelaki di hadapannya itu. "Idiot." Katanya cuek.

Sadar dengan apa sebutan Lala untuk dirinya, Alen mengacak rambut gadis itu pelan. Membuat gelungan rambut gadis itu rusak dan rambutnya terurai bebas ke belakang. "Jaga bicaramu. Kau yang idiot." Balasnya tak mau kalah.

Lala semakin jengkel. Dengan satu sentakan pasti, tangannya ia gunakan menyisir rambut panjang sebahunya itu dengan tergesa dan mengibaskannya kebelakang. Setelah itu, kakinya menginjak keras kaki Alen. Dengan juluran lidah yang keluar dari mulutnya.

Alen terdiam menatap gadis itu beberapa detik. Matanya menatap tubuh gadis itu dari bawah ke atas.

Ternyata ia cantik juga.

-

"Tidak bisa! Enak saja, nanti pengeluaranku makin banyak." Alen mengomel panjang lebar saat Lala meminta izin menginap di apartemennya untuk beberapa hari kedepan.

"Ayolah, aku akan membayar dan membeli kebutuhanku sendiri. Aku hanya ingin menginap saja, itung-itung hemat uang." Bujuknya sembari menggoyang-goyang lengan pemuda itu.

"...aku bisa tidur di dapur. Di ruang tamu juga bisa. Asal jangan di kamar mandi." Imbuhnya lagi.

Alen mendengus kesal. "Baiklah. Awas saja kalau kau merepotkan."

"...dan hei lepaskan tanganmu, jangan menggandoli(?) tanganku seperti ini."

-

"Sudah 2 hari satu malam. Dan aku masih belum bisa menemukanmu." Lala melingkari kalender berwallpaper kucing di atas meja putih miliknya, eh, maksudnya milik Alen._.

Matanya memandang lurus pemandangan taman bunga yang berada di bawah, samping apartemen Alen.

"Bagaimana? Sudah bertemu dengan sahabatmu?" Alen datang sambil membawa 2 cangkir kopi hitam tanpa gula. Ia menyodorkan salah satu cangkir itu ke arah Lala.

Gadis itu, Lala masih memandang lurus objek di depannya. Ia melamun.

Alen yang merasa di acuhkan, menggoyang bahu gadis itu pelan. "Hei ku bawakan kopi, mau tidak?"

Lala mengerjap kaget saat menyadarai kehadiran Alen di sampingnya. Matanya memandang salah satu cangkir kopi yang di bawa lelaki itu. "Ini untukku ya?" Ucapnya sembari merebut kopi bercangkir abu-abu itu.

Alen mengangkat bahunya acuh. Punggung tegapnya menyandar di pembatas balkon apartemennya itu. "Memang untukmu."

Lalu keduanya terdiam.

Dalam keadaan masing-masing membawa secangkir kopi hitam tanpa gula dan bersandar di pinggiran pembatas balkon, Lala dan Alen menatap lurus langit yang berwarna gelap dengan sedikit bintang disana. Mendung.

Setelah beberapa menit mereka terdiam, Alen menoleh dan mendapati Lala seperti sedang memikirkan sesuatu, walaupun saat ini matanya menatap tepat ke arah bintang.

Lelaki itu berdehem pelan, berusaha mengembalikan fokus gadis itu agar kembali menyadari keberadaannya, bukan di acuhkan seperti ini.

Lala menoleh dan memberikan ekspresi 'ada apa?' saat mendengar 'deheman' tidak ikhlas yang di lontarkan oleh lelaki di sampingnya itu.

Dan, hanya di balas oleh gelengan kepala oleh Alen yang kembali memusatkan dirinya meminum kopi hitam tanpa gula yang terasa setia menemaninya sejak 20 menit lalu.

-

"Sudah 15 hari.."

Hari ini Lala memutuskan untuk berjalan-jalan di tengah taman. Setidaknya, untuk hari ini saja ia ingin mengistirahatkan pikirannya yang lelah barang sejenak.

Sebuah kedai es krim di pinggir sungai menarik perhatiannya. Ia ingat, terakhir membeli es krim ialah saat ia bersama dengan Nana. Setahun lalu.

Setahun saat-saat terakhirnya bersama Nana, gadis berambut blonde yang mempunyai mata seperti bulan sabit ketika tertawa.

Lala menutup matanya erat, ketika perasaan bersalah dan menyesal kembali datang dan bersarang di dadanya.

"Kenapa aku begitu bodoh?" Sesalnya dalam hati.

Kemudian, dengan mata yang mulai berair dan dengan kegelapan awan yang mulai datang, menemaninya perlahan ke kedai es krim bernuansa warna pastel di depannya itu.

"Ah tidak jadi kesana, aku tidak siap." Ujar Lala sembari berhenti melangkahkan kakinya.

Tes, tes, tes.

"Eh?"

Lala mendongak ke atas ketika menyadari titik-titik basah jatuh mengenai rambutnya.

Tes, tes, tes, tes.

"Waaa, hujan aduh bagaimana bagaimana ini?" Lala berlari kecil menuju kedai es krim. Ini bukan waktunya untuk mengatakan tidak siap atau apapun. Karena, kalau ia tidak cepat mencari tempat berlindung, ia akan kehujanan. Dan seperti sekarang ini, ia kehujanan. Karena terlalu lama berfikir.

Sekarang ia kedinginan. Baju dan celana jeansnya basah. Bagus.

"Permisi, mau pesan apa?" Seorang pelayan berseragam biru muda datang dan menyerahkan buku berisi menu-menu es krim kepada Lala.

Lala menggigit bibirnya pelan. Hujan-hujan begini di suruh memesan es krim? Dasar kedai tidak beres. Apa pelayan ini tidak peka kalau maksudku kesini hanya untuk berlindung saja?

"Uhm, nona?"

"Eh anu begini. Sekarang hujan turun, apa ada di sini menyediakan makanan hangat? Rasanya aneh kalau memakan es krim hehehe." Tanya Lala cengengesan ke arah pelayan di depannya itu.

"Tentu." Balas si pelayan sambil mengangguk. Dan berbalik pergi ke arah dapur.

-

Disinilah, Lala sekarang. Di depan gundukan tanah cokelat basah dengan taburan beberapa bunga terhias di atasnya. Tadi, sewaktu Lala masih asyik dengan makanan pesanannya di kedai es krim, Alen meneleponnya dan menjemputnya secara mendadak.

Lala, gadis itu masih memandang lelaki di sampingnya ini dengan penuh tanda tanya. Ia, masih tidak habis pikir dengan perilaku aneh yang tiba-tiba di lakukan oleh Alen. Tidak biasanya lelaki itu murung seperti ini.

"Uhm, Len, bisakah kau jelaskan maksudmu mengajakku kesini?" Lala akhirnya tak tahan juga untuk menanyakan apa yang terjadi. Matanya memandang mata Alen penuh tuntutan penjelasan.

Alen membuka kaca mata hitamnya dan menoleh balas memandang Lala dengan pandangan sedih.

"Aku kehilangan temanku sekaligus sahabatku." Ucap Alen parau. Lala menyimpulkan bahwa Alen sedang menangis. Tangan gadis itu menepuk pundak Alen, berusaha menguatkan. "Lanjutkan ceritamu."

"...Dia gadis periang. Cantik. Selalu tersenyum. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, bagaimana kronologi kejadiannya, sampai dia seperti ini." Sambung Alen. Tangannya menunjuk makam di depan kedua manusia itu berdiri.

Lala mendengarkan cerita Alen dengan seksama, merasa tertarik.

"Dia berasal dari warga negara yang sama seperti kita, Indonesia. Yah walaupun dia berambut blonde, tetapi tetap tidak mengurangi keanggunannya. Kejadiannya terjadi pada saat kami berenam, dengan teman-temanku, sedang berwisata mengunjungi Sungai Han. Kami piknik dengan berbagai macam bekal makanan dan minuman. Tiba-tiba, ia mengadu kepada kami bahwa ia merasa pusing dan akhirnya pamit pada kami untuk pulang. Salah satu temanku berinisiatif untuk mengantarnya pulang karena wajahnya sudah pucat."

"Di perjalanan, saat lampu merah, tiba-tiba ia keluar dari mobil dan berlari ke tengah jalan. Temanku yang mengantar berteriak-teriak memanggil namanya. Naas, lampu sudah berganti hijau, ia tertabrak. Ternyata, alasan ia keluar mobil secara tiba-tiba ialah karena ia melihat seorang anak kecil tuna netra berjalan sendirian menyebrang tanpa tongkat, dan itu membuatnya kasihan. Alasannya klasik, ia tidak mau anak kecil itu mati tertabrak sebelum melihat indahnya dunia."

"Ia terluka parah di bagian kepala serta kaki. Dan... meninggal di dalam mobil yang sedang membawanya ke rumah sakit. Ia kehilangan banyak darah."

Alen mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat bercerita panjang lebar tentang sahabatnya yang ia sendiri berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Entahlah, hatinya sakit ketika mengingat tragedi tragis tersebut.

Alen sudah terbiasa untuk di tinggal sahabat. Tetapi ini berbeda. Tanpa Alen sendiri tahu sebabnya.

"Saat mendengarnya, aku sungguh-sungguh tidak percaya. Bagaimana tidak? Ia masih berusia 20 tahun. Masih sangat muda. Seharusnya perjalanan hidupnya masih panjang. Siapa yang tak akan kehilangan anak sebaik dirinya?"

"Sudah 4 bulan ia pergi meninggalkanku, dan teman-temanku. Aku ingin memperkenalkannya kepadamu sekaligus untuk mengingatnya kembali. Aku berharap kau segera bertemu dengan sahabatmu itu Lala-ya, sebelum terlambat. Jangan seperti aku, yah walaupun kisahmu berbeda dengan kisahku." Alen tersenyum kecut.

Tanpa Lala sadari, mata Alen telah basah untuk yang ke dua kalinya. Kristal-kristal bening telah turun dari tempat persembunyiannya. Lelaki itu menatap batu nisan di depannya dalam. Berusaha memberi tahu seberapa berartinya gadis cantik berhati mulia itu bagi dirinya. Walaupun ia tahu, gadis yang di kasihinya itu tak akan pernah tahu dan sadar. Dunia mereka sudah berbeda.

Lala masih terdiam. Tanpa ia sadari ia ikut menatap batu nisan yang basah sehabis di guyur hujan itu dengan nanar. Tak menyangka bahwa wanita berhati bidadari yang biasa ia dengar di dongeng-dongeng sebelum tidur memang benar adanya.

Mata Lala meneliti satu persatu kalimat yang tertulis di batu nisan berbahan marmer tersebut. Ingin mengetahui nama yang berhasil membuat seorang Alen yang notabenya laki-laki, sampai menangis. Namun nihil, hurufnya banyak yang hilang. Mungkin karena terlalu sering diguyur hujan? Entah.

"Len, boleh aku tahu namanya? Atau fotonya mungkin? Dan, aku turut berduka cita ya.." Lala lagi-lagi menepuk bahu pemuda itu lembut. "Yang kuat." Tambahnya lagi.

Alen mengangguk mengiyakan. "Namanya Vania Alanana. Gadis ceria bermata seperti bulan sabit kalau sedang tertawa, dan ini..." Alen merogoh sakunya, mengambil dompet dan juga mengambil beberapa foto yang langsung ia tunjukkan pada Lala.

Lala tampak terdiam ketika menatap foto yang di tunjukkan Alen padanya. Tiba-tiba badannya ambruk dengan kaki jatuh terduduk di atas tanah samping makam dengan air mata yang jatuh deras. Alen tampak bingung dengan perubahan sikap Lala yang tiba-tiba menangis.

"Hei kenapa menangis? Sudah tak apa.. aku sudah ikhlas dia disana..." Alen mencoba membantu Lala berdiri dan memeluknya.

Lala makin keras menangis. Matanya yang sayu itu melihat ke arah foto dengan tatapan seperti hm, kaget? Menyesal? Sedih? Alen tidak tahu. Bahu gadis itu bergetar hebat.

Alen makin tidak mengerti ketika Lala memeluk batu nisan Nana, sahabatnya dengan erat.

"Ma..maafkan a..aku Na..Nana.."

-

Hai Nana!

Sudah satu tahun kau marah dan sudah satu tahun pula kita berpisah.

Beribu-ribu detik aku lalui tanpamu, tanpa kehadiranmu. Dan beribu-ribu detik pula aku merasa tersiksa.

Aku masih tidak mengerti, mengapa hal-hal buruk selalu terjadi pada kisah klasik persahabatan kita.

Aku masih menyesali kebodohanku yang tidak menyadari perasaanmu pada Bryan, lelaki tampan berkacamata yang mempunyai senyum menawan.

Aku menyesal sempat menerima cintanya dan menerima ajakan kencan darinya tanpa aku tahu kalau sebenarnya dirimu terluka.

Aku yang bodoh atau kau yang pintar berakting?

Satu persatu gambaran persahabatan kita mulai pudar, mulai memutih. Tanpa adanya warna pelangi yang menggembirakan. Tanpa warna yang bermakna.

Kau tahu? Doggie, merindukanmu. Ia selalu menggonggong dengan keras setiap kali aku membawanya berjalan-jalan melewati depan rumahmu.

Dan adakah kau peduli tentang kerinduanku?

Rindu ini, tawa ini, kebahagiaan ini, kegilaan ini, terus datang dan menyiksa. Tanpa tahu harus bagaimana.

Rasa bersalah itu juga menusuk jantungku dan menghimpit tubuhku. Aku sampai hampir depresi karena rasa bersalah dan sesalku itu.

Mungkin karena sedikit demi sedikit kemampuan imajinasiku menghilang, aku menatap datar foto kenangan kita. Aku tutup mataku, berusaha masuk ke dalam atmosfer jiwaku yang paling dalam, namum aku tidak lagi bisa merasakan kehangatan tawamu yang selalu menghiburku. Hari-hariku hampa. Tanpa makna.

Nana sahabat pirangku,

Aku mulai menyerah ketika suatu akhir dari persahabatan kita sudah ada di depan mata. Tanpa alasan ataupun penjelasan yang jelas. Aku lelah dan terluka. Semuanya sudah menghilang, dan bahkan menjadi hitam;gelap.

Dengan segala penyesalan yang bertambah dan pertanyaan yang masih berputar-putar di kepala, aku ucapkan selamat tinggal untukmu, sahabatku.

-end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar