Minggu, 11 Mei 2014

Sadness

"Jangan pergi la..."

Kali ini Nayla menoleh. Matanya mendapati lelaki di hadapannya sedang menatapnya dengan sendu. Pendiriannya semakin goyah. Akankah ia masih ngotot untuk pergi dan menyangkal semua perasaannya pada laki-laki di depannya ini? Yang saat ini berdiri di hadapannya dengan menarik ujung tasnya dengan sedikit kuat dan menampakkan ekspresi lemah yang tampak nyata.

Sadar dengan apa yang di lakukannya, Pram melepas tangannya kaku. Matanya masih tak lepas menatap mata bulat Nayla. Hatinya sendiri berdebar kencang, tak rela melepas sahabat cantiknya itu ke luar negeri. Pram tak ingin jauh-jauh dengan Nayla. Hanya itu.

Nayla melirik jam tangan yang bertengger manis di tangan kiri putihnya, 14.10. Masih tersisa empat puluh lima menit lagi pesawatnya berangkat menuju Eropa. Hatinya mencelos, kalau ia tidak segera berangkat, mungkin pikirannya akan berubah.

Di depannya sekarang, berdiri laki-laki yang seumuran dengan dirinya. Matanya elang laki-laki itu masih betah menatap dalam mata Nayla, membuat gadis itu agak salah tingkah dan sedikit tidak nyaman. Ayolah, ia dan pram sudah 18 tahun bertetangga dan tumbuh bersama, dan sekarang Pram sudah berubah menjadi pria dewasa, bukan anak kecil yang suka menangis kalau permennya diambil. Pram sudah menjadi lelaki tampan dan mempesona.

.

.

Dan juga yang telah membuat jantung Nayla menjadi bermarathon setiap kali memandang wajah tampannya itu.

Nayla mencoba bersikap wajar. Mulutnya melengkungkan senyuman lebar. Lalu, "Ayolah teman, hanya dua tahun aku disana. Jangan menangis seperti itu, kau terlihat menjijikan." Katanya sambil merangkul bahu Pram.

Pram mendengus kesal, tangannya menoyor kepala Nayla keras, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Aku tidak menangisimu sahabat ingusku. Kau jangan terlalu percaya diri seperti itu. Kau yang terlihat menjijikan."

Nayla memutar bola matanya malas, "Sakit bodoh!" Umpatnya sambil mengusap-usap kepalanya.

Lalu keduanya terdiam. Nayla melepaskan rangkulannya dari bahu Pram dan melihat lurus pemandangan lapangan pesawat yang di batasi oleh kaca di depannya. Hatinya saat ini ingin menjerit. Ingin rasanya Nayla mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak ingin meninggalkan negara kelahirannya dan keluarganya.

.

.

Dan tidak ingin meninggalkan Pram, tentunya.

Dalam kebisuan yang terasa janggal, Nayla mencoba menguatkan hatinya sekali lagi, untuk tidak mengakui bahwa ia menyukai pria yang berada di sampingnya saat ini. Yang notabenya adalah sahabatnya.

Tsk. Bangsat. Persetan dengan kata sahabat.

Nayla menghirup oksigen banyak-banyak dan menghembuskannya secara kasar. Seolah-olah kegiatan itu dapat menghilangkan rasa sukanya ke Pram dengan mudah. Tapi nyatanya tidak sama sekali, malahan rasanya bertambah sakit.

Persahabatan yang sudah berjalan selama belasan tahun memang tak mudah untuk di rubah menjadi sebuah status, sepasang kekasih contohnya. Begitu pula yang terjadi pada ke dua makhluk adam dan hawa yang berdiri dalam diam ini. Nayla dan Pram, dua orang manusia yang mempunyai kepribadian sangat bertolak belakang, namun saling pengertian. Itulah mengapa sampai saat ini, di dalam hati masing-masing, sudah terselip pernyataan cinta.

Di dalam hati Nayla, di dasar hatinya yang paling dalam. Di suatu tempat dimana segala rasa serta asa itu hidup dan padam secara bergantian. Di letakkan dengan rapi dan terus ia hayati dalam diam.

Disaat ia mulai merasakan apa itu kebahagiaan dan kebebasan batin yang keluar secara tulus, sesuatu yang ia takutkan perlahan muncul. Dengan kesederhaan yang memang pada dasarnya akan muncul bersamaan dengan rasa sayang.

Cinta.

Tanpa Nayla sadari, matanya telah basah. Oh Tuhan, kenapa aku menangis di saat yang tidak tepat? Batinnya kesal.

Pram menoleh ke arah Nayla. Kedua tangan besarnya memeluk tubuh gadis cantik atau sahabat cantiknya itu dengan erat. Menguatkan.

"Sahabat ingusku tak boleh menangis oke? Aku punya seratus silverqueen kesukaanmu. Berhenti menangis atau tidak ku beri sama sekali?" Pram mencoba menghibur Nayla. Ia tertawa hambar. Nyaris tanpa kesenangan.

Tetapi bukan malah berhenti, isakan Nayla malah semakin keras. Badannya bergetar hebat. Hatinya terasa nyaman di peluk oleh Pram, tapi juga merasa tidak ikhlas. Karena ini pelukan terakhir lelaki itu sebelum ia terbang ke Eropa.

Kalau saja dirinya dan Pram bukan berstatus sebagai seorang sahabat, tidak susah baginya menyelipkan kata-kata cinta sebelum berangkat. Memang, sahabat merusak segalanya. Kenapa begitu menyakitkan?

"Kau benar-benar membuat sarang ingus di bajuku ya." Pram masih berusaha untuk menghibur Nayla. Yah walaupun, tidak lucu, setidaknya ia sudah berusaha.

Nayla masih menangis. Tangannya membalas pelukan Pram erat, tidak ingin melepaskan. Biarlah hari ini matanya bengkak, yang penting ia bisa puas memeluk lelaki yang di cintainya-Pram- dengan puas.

Pram yang tak tahan memendam perasaan dan emosi, akhirnya pertahanannya jebol. Matanya ikut basah. Pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh dan shampoo dari rambut panjang milik Nayla. Membiarkan perasaan dari hatinya yang terdalam ini membuncah seketika. Tak peduli lagi dengan kata sahabat, yang ia tahu hanya ia menyayangi sahabat ingusnya, gadis cantik berambut panjang dengan mata bulat yang menawan.

Pram dan Nayla, keduanya sama-sama berpelukan erat. Seperti tak mau kehilangan.

Pram sadar, status yang di perjelas dengan kata sahabat memang menyakitkan. Persahabatan membuatnya terisolasi dalam jeruji besi yang kuat, yang seakan-akan tak akan bisa lolos dari kelompok arti sahabat itu sendiri. Sahabat, bukan cinta.

Meskipun masih tak rela, Pram melepas pelukannya dengan Nayla. Mengusap air mata gadis itu dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Pram sadar, dirinya dan Nayla makin memposisikan diri mereka menjadi semakin sulit. Perasaan ini membuat keduanya hampir terbunuh. Pram tak bisa melalukan apapun yang lebih dari ini, karena kami adalah sahabat. Aku dan Nayla adalah sahabat.

Nayla menatap Pram, begitupun sebaliknya. Gadis itu menghembuskan napas berat, bahunya terangkat keatas. Lalu, "Maaf, tadi terlalu berlebihan." Katanya sambil menepuk pundak Pram disertai sebuah senyuman yang terkesan memaksa. "...aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Katanya lagi dengan canggung.

Pram mengangguk. "Hati-hati. Jika sudah sampai Eropa, kabari aku." Balasnya dengan tak kalah canggung. Tangannya melambai ke arah Nayla yang sudah mulai berjalan jauh dan menghilang dari penglihatannya.

Pram mendesah pelan, aku benci dengan perumpamaan sahabat. Aku benci. Sungguh.

-end-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar