Jumat, 30 Mei 2014

Sweet Heart

"Kyla kau marah ya?"

Pram menggoyang lengan Kyla pelan.

"Tidak tahu." Jawab Kyla acuh.

Hari ini, kamis malam, Pram mengajak Kyla-teman sepermainannya sejak kecil-, untuk makan malam bersama. Dengan alasan; "aku sudah mendapat gaji pertamaku! Ayo kutraktir makan nanti malam. Pukul 7 tepat kau harus sudah sampai disana, awas kalau terlambat!"

Dan gara-gara tidak mau mengecewakan Pram-teman kecilnya itu-, Kyla sudah sampai di Cafe yang di sebutkan Pram tadi pagi sejak pukul enam lewat empat puluh lima menit! Tapi apa? Sekarang malah Pram sendiri yang terlambat. Lelaki itu baru datang pukul delapan malam! Kyla kesal setengah mati.

"Bagaimana kalau kita langsung pesan makanan saja?" Tanya Pram memelas.

"T-i-d-a-k m-a-u!"

Pram mendengus. Kyla memang tidak berubah. Dari dulu kecil sampai sekarang, gadis itu tetap saja menjadi gadis pemarah. Malah sekarang makin parah.

*krucuk*krucuk*

Pram terkekeh kecil lalu kembali menawarkan memesan makanan pada Kyla yang pucat pasi, astaga perutku kenapa harus bunyi sih? Desah gadis itu pelan.

"Apa kau yakin tidak ingin memesan makanan sekarang? Ayolah Kyla, aku bahkan hanya terlambat satu jam sa—"

"HANYA TERLAMBAT SATU JAM KATAMU? HANYA? HANYA?" Kyla memotong perkataan Pram dengan emosi. Terlambat satu jam ia bilang 'hanya'?

Pram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukankah intinya aku sudah datang? Kyla yang cantik, aku sudah lapar sekali. Bisakah kau untuk tidak marah lagi padaku? Bisakah kita memesan makanan sekarang?" Pram memohon dengan suara yang di buat sesedih mungkin. Kyla memutar bola matanya malas.

"Aku bahkan sudah berkorban untuk tidak makan siang gara-gara ajakan makan malammu ini, Pram. Dan sekarang kau datang terlambat, padahal kau sendiri yang memintaku untuk tidak datang terlambat!" Kyla mengerang kesal.

Pram terkaget sampai berdiri dari kursinya. Raut wajah lelaki itu menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Lalu, "Astaga, Kyla! Kau tidak makan siang dan— wow lihat! Kau hebat sekali! Hampir 10 jam kau tidak— aww!"

Kyla menginjak kaki Pram keras-keras sembari melotot tepat ke arah mata Pram, mencegah lelaki itu melanjutkan kalimatnya. Tapi Pram memang dasarnya bodoh, ia tidak tahu jika itu kode dari Kyla, dan malah bertanya, "Hey ada apa dengan matamu?"

Kyla menepuk dahinya keras-keras. Ya ampun, dasar bodoh!

"Lihat sekelilingmu bodoh. Kau tidak sadar kalau sekarang kita jadi pusat perhatian? Aduh Pram, susah sekali aku hari ini. Aku pulang saja." Kyla berbicara setenang mungkin seraya menolehkan kepalanya ke sekitar, meminta maaf kepada para pelanggan Cafe di sekitarnya gara-gara keramaian Cafe yang di sebabkan oleh tingkah konyol Pram.

Pram menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dan benar saja, hampir semua pelanggan yang berada di dekatnya saat ini memandangnya dengan pandangan 'sedang apa dia? Apakah jiwanya terganggu?'. Pram juga baru sadar, kalau saat ini hanya dirinyalah yang menjulang tinggi ke atas, diantara para pengunjung Cafe yang rata-rata perpasang-pasangan itu. Hanya dirinyalah yang berdiri dengan berteriak-teriak seperti orang gila.

"Hehe, maafkan saya, silahkan kembali menikmati makanan anda. Maaf jika kalian terganggu," Ucap Pram sambil membungkukkan badan beberapa kali lalu kembali duduk.

Pram kembali menghadap Kyla dengan tampang watadosnya setelah berhasil membuat gadis itu tadi menunggu hampir satu jam dan baru saja dengan membuat malu dirinya karena tingkahnya.

"Sekarang apa lagi?" Tanya Kyla ketus. Raut wajah yang cantik itu berubah menyeramkan.

"Apa?" Balas Pram polos, dan masih dengan tampang watadosnya.

"Astaga Pram! Ku bunuh kau ya!" Kyla kesal setengah mati. Pram-pram, untung kau temanku sejak kecil. Kalau tidak, mungkin kakimu sudah kubuat terkilir seperti dulu lagi, pikir Kyla gemas.

"Mau apa kau memandangiku dan kakiku seperti itu? Jangan aneh-aneh!" Ternyata Pram menciut juga setelah melihat ekspresi Kyla yang memandangi kakinya dengan bengis. Ia tidak mau wanita pemakai sabuk hitam taekwondo itu kembali mematahkan kakinya, seperti dua tahun yang lalu.

Kyla tersenyum samar dan mulai mengelus-elus kaki panjang Pram dengan lembut, membuat si pemilik kaki itu merinding. Lalu, "Kyla ku..kumohon jangan buat kakiku patah lagi. K..kau bisa memesan makanan sepuas-puasmu sebagai permintaan maafku. Bagaimana?" Pram memberikan penawaran dengan kaki gemeteran.

Kyla tersenyum penuh kemenangan. "Setuju! Kenapa tidak bilang dari tadi? Perutku sudah sangat lapar sekali, huh!"

15 minutes later...

"Alamak! Mati aku!" Pram lemas melihat makanan-makanan mahal dengan ukuran jumbo mendarat ke meja mereka. Perutnya bahkan terasa kenyang sebelum memakan makanan yang di pesan oleh gadis di depannya ini, yang wajahnya berseri-seri karena berhasil memuaskan obsesinya untuk makan besar tanpa harus merogoh kocek sedikit pun dari dompetnya.

"Mari makan!" Kyla berbicara pada Pram dan tersenyum semanis mungkin. Membuat Pram makin lemas tak bertenaga. Aduh, bahkan hanya melihat senyumnya saja kekesalanku hilang lenyap. Bagaimana aku bisa membencinya? Bagaimana nanti jika aku tak berhasil mengungkapkannya? Pram bertanya dalam hati.

"Ky.."

"Hm?"

"Tidak ada. Lanjutkan kembali makanmu," kata Pram akhirnya.

"Baiklah." Kyla kembali makan makanan mahal di depannya tanpa basa-basi. Kebiasaannya kumat, selalu saja mengabaikan seseorang ketika sudah berhadapan dengan makanan.

"Uhm, kau tak makan, Pram?" Tanya Kyla tiba-tiba. Gadis itu lama-lama merasa kasihan juga jika Pram tidak ikut makan. Apalagi, pria itu yang akan membayar semua pesanannya.

"Tidak."

"Kenapa tidak?" Kyla bingung.

"Aku tahu!" Lanjut gadis itu lagi.

"Tahu apa?"

"Kau pasti langsung kenyang gara-gara aku memesan makanan porsi besar sebanyak ini?" Tanya Kyla polos.

Ampun, Ya Tuhan, gadis ini manis sekali.

"Benar sih. Tetapi bukan hanya itu," Jawab Pram sambil tersenyum selembut mungkin.

"Lalu?" Kyla langsung berhenti dari kegiatan makannya. Ia memusatkan dirinya pada Pram.

"Ehm, tidak ada kok."

"Apa kau kebelet itu?" Tanya Kyla tanpa basa-basi. Pram hampir terbahak keras kalau saja ia tidak langsung menjiwit tanggannya sendiri dengan keras, tanpa sepengetahuan Kyla tentunya.

"Kebelet apa? Jorok! Sudah sana lanjutkan makanmu." Kata Pram sambil meringis sedikit. Ternyata, jiwitan pada tangannya terlalu keras.

"Tidak mau." Tolak Kyla. "Ceritakan dulu apa masalah yang membuatmu tidak mau makan,"

"Tidak akan sampai kau mau menghabiskan semua pesananmu yang banyak itu."

"Aish, oke-oke terserah. Tapi kau juga harus makan,"

"Ya."

Pram akhirnya membalik piring putih yang berada di depannya, lalu mengisinya dengan sedikit nasi dan beberapa lauk pauk pesanan Kyla.

Setelah akhirnya acara makan malam mereka selesai, Kyla kembali bertanya, "Sekarang apa?"

Pram terdiam.

Kyla masih memandang Pram dengan tatapan bingung. Namun, lamat-lamat ia malah menikmati pemandangan di depan matanya tersebut. Rambut coklat menyamping, mata yang tajam, rahang yang keras, hidung yang mancung. Aish, kenapa Pram menjadi tampan seperti ini?

"Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tahu aku keren," Pram berbalik menatap Kyla dengan tatapan tulusnya. Gadis itu sepertinya terkejut karena dongakan kepala dan suaranya yang tiba-tiba berbicara tanpa permisi.

Kyla menunduk malu. Menyembunyikan rona merah di wajahnya karena tertangkap basah sedang memperhatikan teman kecilnya itu tanpa berkedip sama sekali. "Ish, PD sekali? Kau tidak keren."

"Tapi aku tampan! Iya kan?" Ujar Pram seraya tertawa kecil, membuat Kyla yang sudah mendongakkan kepalanya melihat Pram, memalingkan muka karena tidak mau Pram melihat wajahnya yang makin merona merah.

"Pram, ini tidak lucu."

"Karena, bagimu, yang lucu itu aku." Ujar Pram lagi lalu terbahak. Membuat Kyla makin malu dan makin memalingkan muka agar Pram tidak melihat blushing di wajahnya.

"Kyla.." Pram tiba-tiba meraih tangan Kyla yang bertautan menjadi satu, lalu menggenggamnya.

"Aku tahu aku tidak romantis, aku tahu tidak seberapa kaya, aku tahu aku tidak bisa bermain gitar, tapi percayalah, aku punya cinta dan sayang yang tulus untukmu. Jadi, maukah kau menjadi pacarku?"

Pram menarik wajah Kyla yang memalingkan muka darinya, menjadi menghadapnya. Lelaki itu tahu kalau Kyla sedang gugup dan malu. Ia sudah mengenal Kyla sejak kecil, begitupun sebaliknya. Jadi ia tahu tanda-tanda atau reaksi Kyla ketika sedang malu, bahkan ketika Kyla ingin pup di toilet, ia tahu tanda-tandanya.

"Pram, kau serius?" Tanya Kyla—memastikan. Pram mengangguk kecil.

"Aku sangat serius. Aku kan tidak pernah berbohong kepadamu." Jawab Pram yakin.

"Pernah-_-kau pernah membohongiku waktu kau memakai shampoo aroma stroberi milikku." Balas Kyla datar.

Pram terdiam. Kyla benar, ia pernah membohongi gadis itu ketika ia diam-diam memakai shampoo aroma stroberi milik gadis itu ketika mandi. Pram menggigit bibirnya, aku lupa.

"Yaa.. hanya itu kan? Tapi sekarang aku serius, Kyla! Aku serius memintamu untuk menjadi pacarku. Bahkan aku sudah berfikir kalau kau juga yang akan menjadi istriku nanti. Kau yang akan melahirkan anakku! Kita akan punya banyak anak, mungkin sekitar delapan anak dengan rambut yang berbeda—"

"DELAPAN ANAK?! KAU KIRA AKU KUCING?!" Kyla shyok setengah mati.

Pram mehe-mehe(?). Lalu, "Jadi bagaimana? Masalah anak, kita bicarakan kapan-kapan saja. Yang penting sekarang beri aku kepastian."

"Kau ini menembakku atau melamarku sih?" Tanya Kyla bingung.

"Hari ini aku menembakmu, tapi besok, aku akan melamarmu."

Kyla tersenyum kecil. Pipinya benar-benar merah sekarang. Astaga Pram, kau sangat..

"Mau ya?"

"Hmm, permintaan di terima!" Jawab Kyla malu-malu. Saat ini wajahnya benar-benar sangat-sangat-sangat merah. Seperti tomat.

"Jadi, mana hadiahnya sweetheart?" Tanya Pram antusias. Kyla bergidik, belum ada 15 detik resmi berpacaran, Pram sudah memanggilnya dengan sebutan manis seperti itu.

"Hadiah apa?" Tanya Kyla polos. "Aku tidak membawa kado,"

"Ini.." Pram menunjuk bibirnya dan bibir Kyla secara bergantian. Kyla cengo.

"Kenapa bibirnya?" Tanya Kyla dengan pandangan bingung.

"Ya ampun, sweetheart! Cium! Seperti yang di film-film itu.." Jawab Pram dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

"TIDAK!! Ibuku akan marah jika aku berciuman!!" Mata Kyla membulat. Pipinya makin merah karena.. malu dan gugup.

Ya ampun lihat! Ia sangat polos.. dan manis. Lihat! Pipinya juga merah seperti tomat.

"Kau benar-benar tidak mau menciumku?"

Kyla menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tetap ada rona merah di pipinya.

"Yasudah. Kita pulang yuk! Besok aku harus melamarmu, jadi aku tidak boleh tidur terlalu malam." Kata Pram lalu menggandeng tangan Kyla.

Dan ketika mereka sampai di mobil Pram, dan sudah duduk di kursi depan mobil, Pram tersenyum lebar. Lalu, "Hari ini aku tidak mendapat ciuman ya Kyla? Sayang sekali.. Berarti besok aku akan akan mendapatkannya. Bahkan di depan orangtuaku dan orangtuamu. Bukankah itu sangat romantis?"

Kyla sontak membulatkan kedua matanya dengan sempurna, lalu tangannya berusaha menggapai ganggang pintu mobil; ingin pulang sendiri naik taxi.

"Tidak bisa sweetheart. Semua pintu di mobil ini sudah ku kunci.." Pram terkekeh dan menunjuk beberapa tombol berwarna putih di pintu mobil sebelah kanannya.

"MATI KAU PRAAMMMNMMMMM!!"

-end-

Minggu, 11 Mei 2014

Sadness

"Jangan pergi la..."

Kali ini Nayla menoleh. Matanya mendapati lelaki di hadapannya sedang menatapnya dengan sendu. Pendiriannya semakin goyah. Akankah ia masih ngotot untuk pergi dan menyangkal semua perasaannya pada laki-laki di depannya ini? Yang saat ini berdiri di hadapannya dengan menarik ujung tasnya dengan sedikit kuat dan menampakkan ekspresi lemah yang tampak nyata.

Sadar dengan apa yang di lakukannya, Pram melepas tangannya kaku. Matanya masih tak lepas menatap mata bulat Nayla. Hatinya sendiri berdebar kencang, tak rela melepas sahabat cantiknya itu ke luar negeri. Pram tak ingin jauh-jauh dengan Nayla. Hanya itu.

Nayla melirik jam tangan yang bertengger manis di tangan kiri putihnya, 14.10. Masih tersisa empat puluh lima menit lagi pesawatnya berangkat menuju Eropa. Hatinya mencelos, kalau ia tidak segera berangkat, mungkin pikirannya akan berubah.

Di depannya sekarang, berdiri laki-laki yang seumuran dengan dirinya. Matanya elang laki-laki itu masih betah menatap dalam mata Nayla, membuat gadis itu agak salah tingkah dan sedikit tidak nyaman. Ayolah, ia dan pram sudah 18 tahun bertetangga dan tumbuh bersama, dan sekarang Pram sudah berubah menjadi pria dewasa, bukan anak kecil yang suka menangis kalau permennya diambil. Pram sudah menjadi lelaki tampan dan mempesona.

.

.

Dan juga yang telah membuat jantung Nayla menjadi bermarathon setiap kali memandang wajah tampannya itu.

Nayla mencoba bersikap wajar. Mulutnya melengkungkan senyuman lebar. Lalu, "Ayolah teman, hanya dua tahun aku disana. Jangan menangis seperti itu, kau terlihat menjijikan." Katanya sambil merangkul bahu Pram.

Pram mendengus kesal, tangannya menoyor kepala Nayla keras, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Aku tidak menangisimu sahabat ingusku. Kau jangan terlalu percaya diri seperti itu. Kau yang terlihat menjijikan."

Nayla memutar bola matanya malas, "Sakit bodoh!" Umpatnya sambil mengusap-usap kepalanya.

Lalu keduanya terdiam. Nayla melepaskan rangkulannya dari bahu Pram dan melihat lurus pemandangan lapangan pesawat yang di batasi oleh kaca di depannya. Hatinya saat ini ingin menjerit. Ingin rasanya Nayla mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak ingin meninggalkan negara kelahirannya dan keluarganya.

.

.

Dan tidak ingin meninggalkan Pram, tentunya.

Dalam kebisuan yang terasa janggal, Nayla mencoba menguatkan hatinya sekali lagi, untuk tidak mengakui bahwa ia menyukai pria yang berada di sampingnya saat ini. Yang notabenya adalah sahabatnya.

Tsk. Bangsat. Persetan dengan kata sahabat.

Nayla menghirup oksigen banyak-banyak dan menghembuskannya secara kasar. Seolah-olah kegiatan itu dapat menghilangkan rasa sukanya ke Pram dengan mudah. Tapi nyatanya tidak sama sekali, malahan rasanya bertambah sakit.

Persahabatan yang sudah berjalan selama belasan tahun memang tak mudah untuk di rubah menjadi sebuah status, sepasang kekasih contohnya. Begitu pula yang terjadi pada ke dua makhluk adam dan hawa yang berdiri dalam diam ini. Nayla dan Pram, dua orang manusia yang mempunyai kepribadian sangat bertolak belakang, namun saling pengertian. Itulah mengapa sampai saat ini, di dalam hati masing-masing, sudah terselip pernyataan cinta.

Di dalam hati Nayla, di dasar hatinya yang paling dalam. Di suatu tempat dimana segala rasa serta asa itu hidup dan padam secara bergantian. Di letakkan dengan rapi dan terus ia hayati dalam diam.

Disaat ia mulai merasakan apa itu kebahagiaan dan kebebasan batin yang keluar secara tulus, sesuatu yang ia takutkan perlahan muncul. Dengan kesederhaan yang memang pada dasarnya akan muncul bersamaan dengan rasa sayang.

Cinta.

Tanpa Nayla sadari, matanya telah basah. Oh Tuhan, kenapa aku menangis di saat yang tidak tepat? Batinnya kesal.

Pram menoleh ke arah Nayla. Kedua tangan besarnya memeluk tubuh gadis cantik atau sahabat cantiknya itu dengan erat. Menguatkan.

"Sahabat ingusku tak boleh menangis oke? Aku punya seratus silverqueen kesukaanmu. Berhenti menangis atau tidak ku beri sama sekali?" Pram mencoba menghibur Nayla. Ia tertawa hambar. Nyaris tanpa kesenangan.

Tetapi bukan malah berhenti, isakan Nayla malah semakin keras. Badannya bergetar hebat. Hatinya terasa nyaman di peluk oleh Pram, tapi juga merasa tidak ikhlas. Karena ini pelukan terakhir lelaki itu sebelum ia terbang ke Eropa.

Kalau saja dirinya dan Pram bukan berstatus sebagai seorang sahabat, tidak susah baginya menyelipkan kata-kata cinta sebelum berangkat. Memang, sahabat merusak segalanya. Kenapa begitu menyakitkan?

"Kau benar-benar membuat sarang ingus di bajuku ya." Pram masih berusaha untuk menghibur Nayla. Yah walaupun, tidak lucu, setidaknya ia sudah berusaha.

Nayla masih menangis. Tangannya membalas pelukan Pram erat, tidak ingin melepaskan. Biarlah hari ini matanya bengkak, yang penting ia bisa puas memeluk lelaki yang di cintainya-Pram- dengan puas.

Pram yang tak tahan memendam perasaan dan emosi, akhirnya pertahanannya jebol. Matanya ikut basah. Pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh dan shampoo dari rambut panjang milik Nayla. Membiarkan perasaan dari hatinya yang terdalam ini membuncah seketika. Tak peduli lagi dengan kata sahabat, yang ia tahu hanya ia menyayangi sahabat ingusnya, gadis cantik berambut panjang dengan mata bulat yang menawan.

Pram dan Nayla, keduanya sama-sama berpelukan erat. Seperti tak mau kehilangan.

Pram sadar, status yang di perjelas dengan kata sahabat memang menyakitkan. Persahabatan membuatnya terisolasi dalam jeruji besi yang kuat, yang seakan-akan tak akan bisa lolos dari kelompok arti sahabat itu sendiri. Sahabat, bukan cinta.

Meskipun masih tak rela, Pram melepas pelukannya dengan Nayla. Mengusap air mata gadis itu dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Pram sadar, dirinya dan Nayla makin memposisikan diri mereka menjadi semakin sulit. Perasaan ini membuat keduanya hampir terbunuh. Pram tak bisa melalukan apapun yang lebih dari ini, karena kami adalah sahabat. Aku dan Nayla adalah sahabat.

Nayla menatap Pram, begitupun sebaliknya. Gadis itu menghembuskan napas berat, bahunya terangkat keatas. Lalu, "Maaf, tadi terlalu berlebihan." Katanya sambil menepuk pundak Pram disertai sebuah senyuman yang terkesan memaksa. "...aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Katanya lagi dengan canggung.

Pram mengangguk. "Hati-hati. Jika sudah sampai Eropa, kabari aku." Balasnya dengan tak kalah canggung. Tangannya melambai ke arah Nayla yang sudah mulai berjalan jauh dan menghilang dari penglihatannya.

Pram mendesah pelan, aku benci dengan perumpamaan sahabat. Aku benci. Sungguh.

-end-