"Kyla kau marah ya?"
Pram menggoyang lengan Kyla pelan.
"Tidak tahu." Jawab Kyla acuh.
Hari ini, kamis malam, Pram mengajak Kyla-teman sepermainannya sejak kecil-, untuk makan malam bersama. Dengan alasan; "aku sudah mendapat gaji pertamaku! Ayo kutraktir makan nanti malam. Pukul 7 tepat kau harus sudah sampai disana, awas kalau terlambat!"
Dan gara-gara tidak mau mengecewakan Pram-teman kecilnya itu-, Kyla sudah sampai di Cafe yang di sebutkan Pram tadi pagi sejak pukul enam lewat empat puluh lima menit! Tapi apa? Sekarang malah Pram sendiri yang terlambat. Lelaki itu baru datang pukul delapan malam! Kyla kesal setengah mati.
"Bagaimana kalau kita langsung pesan makanan saja?" Tanya Pram memelas.
"T-i-d-a-k m-a-u!"
Pram mendengus. Kyla memang tidak berubah. Dari dulu kecil sampai sekarang, gadis itu tetap saja menjadi gadis pemarah. Malah sekarang makin parah.
*krucuk*krucuk*
Pram terkekeh kecil lalu kembali menawarkan memesan makanan pada Kyla yang pucat pasi, astaga perutku kenapa harus bunyi sih? Desah gadis itu pelan.
"Apa kau yakin tidak ingin memesan makanan sekarang? Ayolah Kyla, aku bahkan hanya terlambat satu jam sa—"
"HANYA TERLAMBAT SATU JAM KATAMU? HANYA? HANYA?" Kyla memotong perkataan Pram dengan emosi. Terlambat satu jam ia bilang 'hanya'?
Pram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukankah intinya aku sudah datang? Kyla yang cantik, aku sudah lapar sekali. Bisakah kau untuk tidak marah lagi padaku? Bisakah kita memesan makanan sekarang?" Pram memohon dengan suara yang di buat sesedih mungkin. Kyla memutar bola matanya malas.
"Aku bahkan sudah berkorban untuk tidak makan siang gara-gara ajakan makan malammu ini, Pram. Dan sekarang kau datang terlambat, padahal kau sendiri yang memintaku untuk tidak datang terlambat!" Kyla mengerang kesal.
Pram terkaget sampai berdiri dari kursinya. Raut wajah lelaki itu menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Lalu, "Astaga, Kyla! Kau tidak makan siang dan— wow lihat! Kau hebat sekali! Hampir 10 jam kau tidak— aww!"
Kyla menginjak kaki Pram keras-keras sembari melotot tepat ke arah mata Pram, mencegah lelaki itu melanjutkan kalimatnya. Tapi Pram memang dasarnya bodoh, ia tidak tahu jika itu kode dari Kyla, dan malah bertanya, "Hey ada apa dengan matamu?"
Kyla menepuk dahinya keras-keras. Ya ampun, dasar bodoh!
"Lihat sekelilingmu bodoh. Kau tidak sadar kalau sekarang kita jadi pusat perhatian? Aduh Pram, susah sekali aku hari ini. Aku pulang saja." Kyla berbicara setenang mungkin seraya menolehkan kepalanya ke sekitar, meminta maaf kepada para pelanggan Cafe di sekitarnya gara-gara keramaian Cafe yang di sebabkan oleh tingkah konyol Pram.
Pram menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dan benar saja, hampir semua pelanggan yang berada di dekatnya saat ini memandangnya dengan pandangan 'sedang apa dia? Apakah jiwanya terganggu?'. Pram juga baru sadar, kalau saat ini hanya dirinyalah yang menjulang tinggi ke atas, diantara para pengunjung Cafe yang rata-rata perpasang-pasangan itu. Hanya dirinyalah yang berdiri dengan berteriak-teriak seperti orang gila.
"Hehe, maafkan saya, silahkan kembali menikmati makanan anda. Maaf jika kalian terganggu," Ucap Pram sambil membungkukkan badan beberapa kali lalu kembali duduk.
Pram kembali menghadap Kyla dengan tampang watadosnya setelah berhasil membuat gadis itu tadi menunggu hampir satu jam dan baru saja dengan membuat malu dirinya karena tingkahnya.
"Sekarang apa lagi?" Tanya Kyla ketus. Raut wajah yang cantik itu berubah menyeramkan.
"Apa?" Balas Pram polos, dan masih dengan tampang watadosnya.
"Astaga Pram! Ku bunuh kau ya!" Kyla kesal setengah mati. Pram-pram, untung kau temanku sejak kecil. Kalau tidak, mungkin kakimu sudah kubuat terkilir seperti dulu lagi, pikir Kyla gemas.
"Mau apa kau memandangiku dan kakiku seperti itu? Jangan aneh-aneh!" Ternyata Pram menciut juga setelah melihat ekspresi Kyla yang memandangi kakinya dengan bengis. Ia tidak mau wanita pemakai sabuk hitam taekwondo itu kembali mematahkan kakinya, seperti dua tahun yang lalu.
Kyla tersenyum samar dan mulai mengelus-elus kaki panjang Pram dengan lembut, membuat si pemilik kaki itu merinding. Lalu, "Kyla ku..kumohon jangan buat kakiku patah lagi. K..kau bisa memesan makanan sepuas-puasmu sebagai permintaan maafku. Bagaimana?" Pram memberikan penawaran dengan kaki gemeteran.
Kyla tersenyum penuh kemenangan. "Setuju! Kenapa tidak bilang dari tadi? Perutku sudah sangat lapar sekali, huh!"
15 minutes later...
"Alamak! Mati aku!" Pram lemas melihat makanan-makanan mahal dengan ukuran jumbo mendarat ke meja mereka. Perutnya bahkan terasa kenyang sebelum memakan makanan yang di pesan oleh gadis di depannya ini, yang wajahnya berseri-seri karena berhasil memuaskan obsesinya untuk makan besar tanpa harus merogoh kocek sedikit pun dari dompetnya.
"Mari makan!" Kyla berbicara pada Pram dan tersenyum semanis mungkin. Membuat Pram makin lemas tak bertenaga. Aduh, bahkan hanya melihat senyumnya saja kekesalanku hilang lenyap. Bagaimana aku bisa membencinya? Bagaimana nanti jika aku tak berhasil mengungkapkannya? Pram bertanya dalam hati.
"Ky.."
"Hm?"
"Tidak ada. Lanjutkan kembali makanmu," kata Pram akhirnya.
"Baiklah." Kyla kembali makan makanan mahal di depannya tanpa basa-basi. Kebiasaannya kumat, selalu saja mengabaikan seseorang ketika sudah berhadapan dengan makanan.
"Uhm, kau tak makan, Pram?" Tanya Kyla tiba-tiba. Gadis itu lama-lama merasa kasihan juga jika Pram tidak ikut makan. Apalagi, pria itu yang akan membayar semua pesanannya.
"Tidak."
"Kenapa tidak?" Kyla bingung.
"Aku tahu!" Lanjut gadis itu lagi.
"Tahu apa?"
"Kau pasti langsung kenyang gara-gara aku memesan makanan porsi besar sebanyak ini?" Tanya Kyla polos.
Ampun, Ya Tuhan, gadis ini manis sekali.
"Benar sih. Tetapi bukan hanya itu," Jawab Pram sambil tersenyum selembut mungkin.
"Lalu?" Kyla langsung berhenti dari kegiatan makannya. Ia memusatkan dirinya pada Pram.
"Ehm, tidak ada kok."
"Apa kau kebelet itu?" Tanya Kyla tanpa basa-basi. Pram hampir terbahak keras kalau saja ia tidak langsung menjiwit tanggannya sendiri dengan keras, tanpa sepengetahuan Kyla tentunya.
"Kebelet apa? Jorok! Sudah sana lanjutkan makanmu." Kata Pram sambil meringis sedikit. Ternyata, jiwitan pada tangannya terlalu keras.
"Tidak mau." Tolak Kyla. "Ceritakan dulu apa masalah yang membuatmu tidak mau makan,"
"Tidak akan sampai kau mau menghabiskan semua pesananmu yang banyak itu."
"Aish, oke-oke terserah. Tapi kau juga harus makan,"
"Ya."
Pram akhirnya membalik piring putih yang berada di depannya, lalu mengisinya dengan sedikit nasi dan beberapa lauk pauk pesanan Kyla.
Setelah akhirnya acara makan malam mereka selesai, Kyla kembali bertanya, "Sekarang apa?"
Pram terdiam.
Kyla masih memandang Pram dengan tatapan bingung. Namun, lamat-lamat ia malah menikmati pemandangan di depan matanya tersebut. Rambut coklat menyamping, mata yang tajam, rahang yang keras, hidung yang mancung. Aish, kenapa Pram menjadi tampan seperti ini?
"Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tahu aku keren," Pram berbalik menatap Kyla dengan tatapan tulusnya. Gadis itu sepertinya terkejut karena dongakan kepala dan suaranya yang tiba-tiba berbicara tanpa permisi.
Kyla menunduk malu. Menyembunyikan rona merah di wajahnya karena tertangkap basah sedang memperhatikan teman kecilnya itu tanpa berkedip sama sekali. "Ish, PD sekali? Kau tidak keren."
"Tapi aku tampan! Iya kan?" Ujar Pram seraya tertawa kecil, membuat Kyla yang sudah mendongakkan kepalanya melihat Pram, memalingkan muka karena tidak mau Pram melihat wajahnya yang makin merona merah.
"Pram, ini tidak lucu."
"Karena, bagimu, yang lucu itu aku." Ujar Pram lagi lalu terbahak. Membuat Kyla makin malu dan makin memalingkan muka agar Pram tidak melihat blushing di wajahnya.
"Kyla.." Pram tiba-tiba meraih tangan Kyla yang bertautan menjadi satu, lalu menggenggamnya.
"Aku tahu aku tidak romantis, aku tahu tidak seberapa kaya, aku tahu aku tidak bisa bermain gitar, tapi percayalah, aku punya cinta dan sayang yang tulus untukmu. Jadi, maukah kau menjadi pacarku?"
Pram menarik wajah Kyla yang memalingkan muka darinya, menjadi menghadapnya. Lelaki itu tahu kalau Kyla sedang gugup dan malu. Ia sudah mengenal Kyla sejak kecil, begitupun sebaliknya. Jadi ia tahu tanda-tanda atau reaksi Kyla ketika sedang malu, bahkan ketika Kyla ingin pup di toilet, ia tahu tanda-tandanya.
"Pram, kau serius?" Tanya Kyla—memastikan. Pram mengangguk kecil.
"Aku sangat serius. Aku kan tidak pernah berbohong kepadamu." Jawab Pram yakin.
"Pernah-_-kau pernah membohongiku waktu kau memakai shampoo aroma stroberi milikku." Balas Kyla datar.
Pram terdiam. Kyla benar, ia pernah membohongi gadis itu ketika ia diam-diam memakai shampoo aroma stroberi milik gadis itu ketika mandi. Pram menggigit bibirnya, aku lupa.
"Yaa.. hanya itu kan? Tapi sekarang aku serius, Kyla! Aku serius memintamu untuk menjadi pacarku. Bahkan aku sudah berfikir kalau kau juga yang akan menjadi istriku nanti. Kau yang akan melahirkan anakku! Kita akan punya banyak anak, mungkin sekitar delapan anak dengan rambut yang berbeda—"
"DELAPAN ANAK?! KAU KIRA AKU KUCING?!" Kyla shyok setengah mati.
Pram mehe-mehe(?). Lalu, "Jadi bagaimana? Masalah anak, kita bicarakan kapan-kapan saja. Yang penting sekarang beri aku kepastian."
"Kau ini menembakku atau melamarku sih?" Tanya Kyla bingung.
"Hari ini aku menembakmu, tapi besok, aku akan melamarmu."
Kyla tersenyum kecil. Pipinya benar-benar merah sekarang. Astaga Pram, kau sangat..
"Mau ya?"
"Hmm, permintaan di terima!" Jawab Kyla malu-malu. Saat ini wajahnya benar-benar sangat-sangat-sangat merah. Seperti tomat.
"Jadi, mana hadiahnya sweetheart?" Tanya Pram antusias. Kyla bergidik, belum ada 15 detik resmi berpacaran, Pram sudah memanggilnya dengan sebutan manis seperti itu.
"Hadiah apa?" Tanya Kyla polos. "Aku tidak membawa kado,"
"Ini.." Pram menunjuk bibirnya dan bibir Kyla secara bergantian. Kyla cengo.
"Kenapa bibirnya?" Tanya Kyla dengan pandangan bingung.
"Ya ampun, sweetheart! Cium! Seperti yang di film-film itu.." Jawab Pram dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.
"TIDAK!! Ibuku akan marah jika aku berciuman!!" Mata Kyla membulat. Pipinya makin merah karena.. malu dan gugup.
Ya ampun lihat! Ia sangat polos.. dan manis. Lihat! Pipinya juga merah seperti tomat.
"Kau benar-benar tidak mau menciumku?"
Kyla menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tetap ada rona merah di pipinya.
"Yasudah. Kita pulang yuk! Besok aku harus melamarmu, jadi aku tidak boleh tidur terlalu malam." Kata Pram lalu menggandeng tangan Kyla.
Dan ketika mereka sampai di mobil Pram, dan sudah duduk di kursi depan mobil, Pram tersenyum lebar. Lalu, "Hari ini aku tidak mendapat ciuman ya Kyla? Sayang sekali.. Berarti besok aku akan akan mendapatkannya. Bahkan di depan orangtuaku dan orangtuamu. Bukankah itu sangat romantis?"
Kyla sontak membulatkan kedua matanya dengan sempurna, lalu tangannya berusaha menggapai ganggang pintu mobil; ingin pulang sendiri naik taxi.
"Tidak bisa sweetheart. Semua pintu di mobil ini sudah ku kunci.." Pram terkekeh dan menunjuk beberapa tombol berwarna putih di pintu mobil sebelah kanannya.
"MATI KAU PRAAMMMNMMMMM!!"
-end-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar