Jumat, 30 Mei 2014

Sweet Heart

"Kyla kau marah ya?"

Pram menggoyang lengan Kyla pelan.

"Tidak tahu." Jawab Kyla acuh.

Hari ini, kamis malam, Pram mengajak Kyla-teman sepermainannya sejak kecil-, untuk makan malam bersama. Dengan alasan; "aku sudah mendapat gaji pertamaku! Ayo kutraktir makan nanti malam. Pukul 7 tepat kau harus sudah sampai disana, awas kalau terlambat!"

Dan gara-gara tidak mau mengecewakan Pram-teman kecilnya itu-, Kyla sudah sampai di Cafe yang di sebutkan Pram tadi pagi sejak pukul enam lewat empat puluh lima menit! Tapi apa? Sekarang malah Pram sendiri yang terlambat. Lelaki itu baru datang pukul delapan malam! Kyla kesal setengah mati.

"Bagaimana kalau kita langsung pesan makanan saja?" Tanya Pram memelas.

"T-i-d-a-k m-a-u!"

Pram mendengus. Kyla memang tidak berubah. Dari dulu kecil sampai sekarang, gadis itu tetap saja menjadi gadis pemarah. Malah sekarang makin parah.

*krucuk*krucuk*

Pram terkekeh kecil lalu kembali menawarkan memesan makanan pada Kyla yang pucat pasi, astaga perutku kenapa harus bunyi sih? Desah gadis itu pelan.

"Apa kau yakin tidak ingin memesan makanan sekarang? Ayolah Kyla, aku bahkan hanya terlambat satu jam sa—"

"HANYA TERLAMBAT SATU JAM KATAMU? HANYA? HANYA?" Kyla memotong perkataan Pram dengan emosi. Terlambat satu jam ia bilang 'hanya'?

Pram menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Bukankah intinya aku sudah datang? Kyla yang cantik, aku sudah lapar sekali. Bisakah kau untuk tidak marah lagi padaku? Bisakah kita memesan makanan sekarang?" Pram memohon dengan suara yang di buat sesedih mungkin. Kyla memutar bola matanya malas.

"Aku bahkan sudah berkorban untuk tidak makan siang gara-gara ajakan makan malammu ini, Pram. Dan sekarang kau datang terlambat, padahal kau sendiri yang memintaku untuk tidak datang terlambat!" Kyla mengerang kesal.

Pram terkaget sampai berdiri dari kursinya. Raut wajah lelaki itu menunjukkan keterkejutan yang luar biasa. Lalu, "Astaga, Kyla! Kau tidak makan siang dan— wow lihat! Kau hebat sekali! Hampir 10 jam kau tidak— aww!"

Kyla menginjak kaki Pram keras-keras sembari melotot tepat ke arah mata Pram, mencegah lelaki itu melanjutkan kalimatnya. Tapi Pram memang dasarnya bodoh, ia tidak tahu jika itu kode dari Kyla, dan malah bertanya, "Hey ada apa dengan matamu?"

Kyla menepuk dahinya keras-keras. Ya ampun, dasar bodoh!

"Lihat sekelilingmu bodoh. Kau tidak sadar kalau sekarang kita jadi pusat perhatian? Aduh Pram, susah sekali aku hari ini. Aku pulang saja." Kyla berbicara setenang mungkin seraya menolehkan kepalanya ke sekitar, meminta maaf kepada para pelanggan Cafe di sekitarnya gara-gara keramaian Cafe yang di sebabkan oleh tingkah konyol Pram.

Pram menolehkan kepalanya ke kanan dan ke kiri. Dan benar saja, hampir semua pelanggan yang berada di dekatnya saat ini memandangnya dengan pandangan 'sedang apa dia? Apakah jiwanya terganggu?'. Pram juga baru sadar, kalau saat ini hanya dirinyalah yang menjulang tinggi ke atas, diantara para pengunjung Cafe yang rata-rata perpasang-pasangan itu. Hanya dirinyalah yang berdiri dengan berteriak-teriak seperti orang gila.

"Hehe, maafkan saya, silahkan kembali menikmati makanan anda. Maaf jika kalian terganggu," Ucap Pram sambil membungkukkan badan beberapa kali lalu kembali duduk.

Pram kembali menghadap Kyla dengan tampang watadosnya setelah berhasil membuat gadis itu tadi menunggu hampir satu jam dan baru saja dengan membuat malu dirinya karena tingkahnya.

"Sekarang apa lagi?" Tanya Kyla ketus. Raut wajah yang cantik itu berubah menyeramkan.

"Apa?" Balas Pram polos, dan masih dengan tampang watadosnya.

"Astaga Pram! Ku bunuh kau ya!" Kyla kesal setengah mati. Pram-pram, untung kau temanku sejak kecil. Kalau tidak, mungkin kakimu sudah kubuat terkilir seperti dulu lagi, pikir Kyla gemas.

"Mau apa kau memandangiku dan kakiku seperti itu? Jangan aneh-aneh!" Ternyata Pram menciut juga setelah melihat ekspresi Kyla yang memandangi kakinya dengan bengis. Ia tidak mau wanita pemakai sabuk hitam taekwondo itu kembali mematahkan kakinya, seperti dua tahun yang lalu.

Kyla tersenyum samar dan mulai mengelus-elus kaki panjang Pram dengan lembut, membuat si pemilik kaki itu merinding. Lalu, "Kyla ku..kumohon jangan buat kakiku patah lagi. K..kau bisa memesan makanan sepuas-puasmu sebagai permintaan maafku. Bagaimana?" Pram memberikan penawaran dengan kaki gemeteran.

Kyla tersenyum penuh kemenangan. "Setuju! Kenapa tidak bilang dari tadi? Perutku sudah sangat lapar sekali, huh!"

15 minutes later...

"Alamak! Mati aku!" Pram lemas melihat makanan-makanan mahal dengan ukuran jumbo mendarat ke meja mereka. Perutnya bahkan terasa kenyang sebelum memakan makanan yang di pesan oleh gadis di depannya ini, yang wajahnya berseri-seri karena berhasil memuaskan obsesinya untuk makan besar tanpa harus merogoh kocek sedikit pun dari dompetnya.

"Mari makan!" Kyla berbicara pada Pram dan tersenyum semanis mungkin. Membuat Pram makin lemas tak bertenaga. Aduh, bahkan hanya melihat senyumnya saja kekesalanku hilang lenyap. Bagaimana aku bisa membencinya? Bagaimana nanti jika aku tak berhasil mengungkapkannya? Pram bertanya dalam hati.

"Ky.."

"Hm?"

"Tidak ada. Lanjutkan kembali makanmu," kata Pram akhirnya.

"Baiklah." Kyla kembali makan makanan mahal di depannya tanpa basa-basi. Kebiasaannya kumat, selalu saja mengabaikan seseorang ketika sudah berhadapan dengan makanan.

"Uhm, kau tak makan, Pram?" Tanya Kyla tiba-tiba. Gadis itu lama-lama merasa kasihan juga jika Pram tidak ikut makan. Apalagi, pria itu yang akan membayar semua pesanannya.

"Tidak."

"Kenapa tidak?" Kyla bingung.

"Aku tahu!" Lanjut gadis itu lagi.

"Tahu apa?"

"Kau pasti langsung kenyang gara-gara aku memesan makanan porsi besar sebanyak ini?" Tanya Kyla polos.

Ampun, Ya Tuhan, gadis ini manis sekali.

"Benar sih. Tetapi bukan hanya itu," Jawab Pram sambil tersenyum selembut mungkin.

"Lalu?" Kyla langsung berhenti dari kegiatan makannya. Ia memusatkan dirinya pada Pram.

"Ehm, tidak ada kok."

"Apa kau kebelet itu?" Tanya Kyla tanpa basa-basi. Pram hampir terbahak keras kalau saja ia tidak langsung menjiwit tanggannya sendiri dengan keras, tanpa sepengetahuan Kyla tentunya.

"Kebelet apa? Jorok! Sudah sana lanjutkan makanmu." Kata Pram sambil meringis sedikit. Ternyata, jiwitan pada tangannya terlalu keras.

"Tidak mau." Tolak Kyla. "Ceritakan dulu apa masalah yang membuatmu tidak mau makan,"

"Tidak akan sampai kau mau menghabiskan semua pesananmu yang banyak itu."

"Aish, oke-oke terserah. Tapi kau juga harus makan,"

"Ya."

Pram akhirnya membalik piring putih yang berada di depannya, lalu mengisinya dengan sedikit nasi dan beberapa lauk pauk pesanan Kyla.

Setelah akhirnya acara makan malam mereka selesai, Kyla kembali bertanya, "Sekarang apa?"

Pram terdiam.

Kyla masih memandang Pram dengan tatapan bingung. Namun, lamat-lamat ia malah menikmati pemandangan di depan matanya tersebut. Rambut coklat menyamping, mata yang tajam, rahang yang keras, hidung yang mancung. Aish, kenapa Pram menjadi tampan seperti ini?

"Tidak usah melihatku seperti itu. Aku tahu aku keren," Pram berbalik menatap Kyla dengan tatapan tulusnya. Gadis itu sepertinya terkejut karena dongakan kepala dan suaranya yang tiba-tiba berbicara tanpa permisi.

Kyla menunduk malu. Menyembunyikan rona merah di wajahnya karena tertangkap basah sedang memperhatikan teman kecilnya itu tanpa berkedip sama sekali. "Ish, PD sekali? Kau tidak keren."

"Tapi aku tampan! Iya kan?" Ujar Pram seraya tertawa kecil, membuat Kyla yang sudah mendongakkan kepalanya melihat Pram, memalingkan muka karena tidak mau Pram melihat wajahnya yang makin merona merah.

"Pram, ini tidak lucu."

"Karena, bagimu, yang lucu itu aku." Ujar Pram lagi lalu terbahak. Membuat Kyla makin malu dan makin memalingkan muka agar Pram tidak melihat blushing di wajahnya.

"Kyla.." Pram tiba-tiba meraih tangan Kyla yang bertautan menjadi satu, lalu menggenggamnya.

"Aku tahu aku tidak romantis, aku tahu tidak seberapa kaya, aku tahu aku tidak bisa bermain gitar, tapi percayalah, aku punya cinta dan sayang yang tulus untukmu. Jadi, maukah kau menjadi pacarku?"

Pram menarik wajah Kyla yang memalingkan muka darinya, menjadi menghadapnya. Lelaki itu tahu kalau Kyla sedang gugup dan malu. Ia sudah mengenal Kyla sejak kecil, begitupun sebaliknya. Jadi ia tahu tanda-tanda atau reaksi Kyla ketika sedang malu, bahkan ketika Kyla ingin pup di toilet, ia tahu tanda-tandanya.

"Pram, kau serius?" Tanya Kyla—memastikan. Pram mengangguk kecil.

"Aku sangat serius. Aku kan tidak pernah berbohong kepadamu." Jawab Pram yakin.

"Pernah-_-kau pernah membohongiku waktu kau memakai shampoo aroma stroberi milikku." Balas Kyla datar.

Pram terdiam. Kyla benar, ia pernah membohongi gadis itu ketika ia diam-diam memakai shampoo aroma stroberi milik gadis itu ketika mandi. Pram menggigit bibirnya, aku lupa.

"Yaa.. hanya itu kan? Tapi sekarang aku serius, Kyla! Aku serius memintamu untuk menjadi pacarku. Bahkan aku sudah berfikir kalau kau juga yang akan menjadi istriku nanti. Kau yang akan melahirkan anakku! Kita akan punya banyak anak, mungkin sekitar delapan anak dengan rambut yang berbeda—"

"DELAPAN ANAK?! KAU KIRA AKU KUCING?!" Kyla shyok setengah mati.

Pram mehe-mehe(?). Lalu, "Jadi bagaimana? Masalah anak, kita bicarakan kapan-kapan saja. Yang penting sekarang beri aku kepastian."

"Kau ini menembakku atau melamarku sih?" Tanya Kyla bingung.

"Hari ini aku menembakmu, tapi besok, aku akan melamarmu."

Kyla tersenyum kecil. Pipinya benar-benar merah sekarang. Astaga Pram, kau sangat..

"Mau ya?"

"Hmm, permintaan di terima!" Jawab Kyla malu-malu. Saat ini wajahnya benar-benar sangat-sangat-sangat merah. Seperti tomat.

"Jadi, mana hadiahnya sweetheart?" Tanya Pram antusias. Kyla bergidik, belum ada 15 detik resmi berpacaran, Pram sudah memanggilnya dengan sebutan manis seperti itu.

"Hadiah apa?" Tanya Kyla polos. "Aku tidak membawa kado,"

"Ini.." Pram menunjuk bibirnya dan bibir Kyla secara bergantian. Kyla cengo.

"Kenapa bibirnya?" Tanya Kyla dengan pandangan bingung.

"Ya ampun, sweetheart! Cium! Seperti yang di film-film itu.." Jawab Pram dengan senyuman yang mengembang di wajahnya.

"TIDAK!! Ibuku akan marah jika aku berciuman!!" Mata Kyla membulat. Pipinya makin merah karena.. malu dan gugup.

Ya ampun lihat! Ia sangat polos.. dan manis. Lihat! Pipinya juga merah seperti tomat.

"Kau benar-benar tidak mau menciumku?"

Kyla menggeleng-gelengkan kepalanya. Masih tetap ada rona merah di pipinya.

"Yasudah. Kita pulang yuk! Besok aku harus melamarmu, jadi aku tidak boleh tidur terlalu malam." Kata Pram lalu menggandeng tangan Kyla.

Dan ketika mereka sampai di mobil Pram, dan sudah duduk di kursi depan mobil, Pram tersenyum lebar. Lalu, "Hari ini aku tidak mendapat ciuman ya Kyla? Sayang sekali.. Berarti besok aku akan akan mendapatkannya. Bahkan di depan orangtuaku dan orangtuamu. Bukankah itu sangat romantis?"

Kyla sontak membulatkan kedua matanya dengan sempurna, lalu tangannya berusaha menggapai ganggang pintu mobil; ingin pulang sendiri naik taxi.

"Tidak bisa sweetheart. Semua pintu di mobil ini sudah ku kunci.." Pram terkekeh dan menunjuk beberapa tombol berwarna putih di pintu mobil sebelah kanannya.

"MATI KAU PRAAMMMNMMMMM!!"

-end-

Minggu, 11 Mei 2014

Sadness

"Jangan pergi la..."

Kali ini Nayla menoleh. Matanya mendapati lelaki di hadapannya sedang menatapnya dengan sendu. Pendiriannya semakin goyah. Akankah ia masih ngotot untuk pergi dan menyangkal semua perasaannya pada laki-laki di depannya ini? Yang saat ini berdiri di hadapannya dengan menarik ujung tasnya dengan sedikit kuat dan menampakkan ekspresi lemah yang tampak nyata.

Sadar dengan apa yang di lakukannya, Pram melepas tangannya kaku. Matanya masih tak lepas menatap mata bulat Nayla. Hatinya sendiri berdebar kencang, tak rela melepas sahabat cantiknya itu ke luar negeri. Pram tak ingin jauh-jauh dengan Nayla. Hanya itu.

Nayla melirik jam tangan yang bertengger manis di tangan kiri putihnya, 14.10. Masih tersisa empat puluh lima menit lagi pesawatnya berangkat menuju Eropa. Hatinya mencelos, kalau ia tidak segera berangkat, mungkin pikirannya akan berubah.

Di depannya sekarang, berdiri laki-laki yang seumuran dengan dirinya. Matanya elang laki-laki itu masih betah menatap dalam mata Nayla, membuat gadis itu agak salah tingkah dan sedikit tidak nyaman. Ayolah, ia dan pram sudah 18 tahun bertetangga dan tumbuh bersama, dan sekarang Pram sudah berubah menjadi pria dewasa, bukan anak kecil yang suka menangis kalau permennya diambil. Pram sudah menjadi lelaki tampan dan mempesona.

.

.

Dan juga yang telah membuat jantung Nayla menjadi bermarathon setiap kali memandang wajah tampannya itu.

Nayla mencoba bersikap wajar. Mulutnya melengkungkan senyuman lebar. Lalu, "Ayolah teman, hanya dua tahun aku disana. Jangan menangis seperti itu, kau terlihat menjijikan." Katanya sambil merangkul bahu Pram.

Pram mendengus kesal, tangannya menoyor kepala Nayla keras, membuat gadis itu mengaduh kesakitan. "Aku tidak menangisimu sahabat ingusku. Kau jangan terlalu percaya diri seperti itu. Kau yang terlihat menjijikan."

Nayla memutar bola matanya malas, "Sakit bodoh!" Umpatnya sambil mengusap-usap kepalanya.

Lalu keduanya terdiam. Nayla melepaskan rangkulannya dari bahu Pram dan melihat lurus pemandangan lapangan pesawat yang di batasi oleh kaca di depannya. Hatinya saat ini ingin menjerit. Ingin rasanya Nayla mengatakan bahwa sesungguhnya ia tidak ingin meninggalkan negara kelahirannya dan keluarganya.

.

.

Dan tidak ingin meninggalkan Pram, tentunya.

Dalam kebisuan yang terasa janggal, Nayla mencoba menguatkan hatinya sekali lagi, untuk tidak mengakui bahwa ia menyukai pria yang berada di sampingnya saat ini. Yang notabenya adalah sahabatnya.

Tsk. Bangsat. Persetan dengan kata sahabat.

Nayla menghirup oksigen banyak-banyak dan menghembuskannya secara kasar. Seolah-olah kegiatan itu dapat menghilangkan rasa sukanya ke Pram dengan mudah. Tapi nyatanya tidak sama sekali, malahan rasanya bertambah sakit.

Persahabatan yang sudah berjalan selama belasan tahun memang tak mudah untuk di rubah menjadi sebuah status, sepasang kekasih contohnya. Begitu pula yang terjadi pada ke dua makhluk adam dan hawa yang berdiri dalam diam ini. Nayla dan Pram, dua orang manusia yang mempunyai kepribadian sangat bertolak belakang, namun saling pengertian. Itulah mengapa sampai saat ini, di dalam hati masing-masing, sudah terselip pernyataan cinta.

Di dalam hati Nayla, di dasar hatinya yang paling dalam. Di suatu tempat dimana segala rasa serta asa itu hidup dan padam secara bergantian. Di letakkan dengan rapi dan terus ia hayati dalam diam.

Disaat ia mulai merasakan apa itu kebahagiaan dan kebebasan batin yang keluar secara tulus, sesuatu yang ia takutkan perlahan muncul. Dengan kesederhaan yang memang pada dasarnya akan muncul bersamaan dengan rasa sayang.

Cinta.

Tanpa Nayla sadari, matanya telah basah. Oh Tuhan, kenapa aku menangis di saat yang tidak tepat? Batinnya kesal.

Pram menoleh ke arah Nayla. Kedua tangan besarnya memeluk tubuh gadis cantik atau sahabat cantiknya itu dengan erat. Menguatkan.

"Sahabat ingusku tak boleh menangis oke? Aku punya seratus silverqueen kesukaanmu. Berhenti menangis atau tidak ku beri sama sekali?" Pram mencoba menghibur Nayla. Ia tertawa hambar. Nyaris tanpa kesenangan.

Tetapi bukan malah berhenti, isakan Nayla malah semakin keras. Badannya bergetar hebat. Hatinya terasa nyaman di peluk oleh Pram, tapi juga merasa tidak ikhlas. Karena ini pelukan terakhir lelaki itu sebelum ia terbang ke Eropa.

Kalau saja dirinya dan Pram bukan berstatus sebagai seorang sahabat, tidak susah baginya menyelipkan kata-kata cinta sebelum berangkat. Memang, sahabat merusak segalanya. Kenapa begitu menyakitkan?

"Kau benar-benar membuat sarang ingus di bajuku ya." Pram masih berusaha untuk menghibur Nayla. Yah walaupun, tidak lucu, setidaknya ia sudah berusaha.

Nayla masih menangis. Tangannya membalas pelukan Pram erat, tidak ingin melepaskan. Biarlah hari ini matanya bengkak, yang penting ia bisa puas memeluk lelaki yang di cintainya-Pram- dengan puas.

Pram yang tak tahan memendam perasaan dan emosi, akhirnya pertahanannya jebol. Matanya ikut basah. Pria itu menghirup dalam-dalam aroma tubuh dan shampoo dari rambut panjang milik Nayla. Membiarkan perasaan dari hatinya yang terdalam ini membuncah seketika. Tak peduli lagi dengan kata sahabat, yang ia tahu hanya ia menyayangi sahabat ingusnya, gadis cantik berambut panjang dengan mata bulat yang menawan.

Pram dan Nayla, keduanya sama-sama berpelukan erat. Seperti tak mau kehilangan.

Pram sadar, status yang di perjelas dengan kata sahabat memang menyakitkan. Persahabatan membuatnya terisolasi dalam jeruji besi yang kuat, yang seakan-akan tak akan bisa lolos dari kelompok arti sahabat itu sendiri. Sahabat, bukan cinta.

Meskipun masih tak rela, Pram melepas pelukannya dengan Nayla. Mengusap air mata gadis itu dan mengecup keningnya dengan penuh kasih sayang. Pram sadar, dirinya dan Nayla makin memposisikan diri mereka menjadi semakin sulit. Perasaan ini membuat keduanya hampir terbunuh. Pram tak bisa melalukan apapun yang lebih dari ini, karena kami adalah sahabat. Aku dan Nayla adalah sahabat.

Nayla menatap Pram, begitupun sebaliknya. Gadis itu menghembuskan napas berat, bahunya terangkat keatas. Lalu, "Maaf, tadi terlalu berlebihan." Katanya sambil menepuk pundak Pram disertai sebuah senyuman yang terkesan memaksa. "...aku pergi dulu. Jaga dirimu baik-baik." Katanya lagi dengan canggung.

Pram mengangguk. "Hati-hati. Jika sudah sampai Eropa, kabari aku." Balasnya dengan tak kalah canggung. Tangannya melambai ke arah Nayla yang sudah mulai berjalan jauh dan menghilang dari penglihatannya.

Pram mendesah pelan, aku benci dengan perumpamaan sahabat. Aku benci. Sungguh.

-end-

Rabu, 23 April 2014

Regret

Stasiun Seoul tampak ramai ketika Lala tiba. Dengan satu koper besar berwarna pink cerah dan tas panjang tempat uang dan beberapa benda elektronik miliknya, mampu membuat semua orang mengira kalau ia bukan warga asli negara ginseng tersebut.

Lala mengedarkan pandangannya ke seluruh arah. Baru pertama kali ini ia ke Korea dan sekarang ia tak tahu harus kemana.

Kakinya melangkah ke kanan, berjalan lurus mengikuti arah orang-orang yang berlalu lalang di depannya. Dan ia harus kecewa, karena saat ini ia hanya menemukan berbagai macam kedai makanan dan minuman.

Dengan putar balikan badan 180° derajat,  kakinya berjalan kembali ke tempat awal semula ia berada.

"Excusme, can i help you?"

Sebuah suara mengusik telinganya dan membuatnya menoleh. Seorang pria dengan wajah yang tidak bisa di bilang seperti wajah orang korea yang mempunyai mata sipit dan kulit putih, menawarkan bantuan.

Lala memandang pria di depannya itu dari atas-ke bawah. Sepertinya ia bukan warga sini. Gumamnya tak yakin.

"Maaf, kau orang Indonesia?" Tanya pria itu lagi dengan senyuman lebar.

"Eh? Kau orang Indonesia juga?" Lala balas bertanya. Tidak menjawab pertanyaan pria itu.

Sang pria mengangguk dan mengulurkan tangannya "Alendra. Siapa namamu?" Tanyanya.

Lala melihat pria bernama Alendra itu dengan tatapan agak ragu. Kata ibunya, ia tak boleh sembarangan mengenalkan dirinya dengan orang yang tak di kenalnya. Berbahaya. Apalagi ini bukan di negaranya sendiri.

"Aku bukan penjahat." Alendra tersenyum.

Lala menggangguk dan membalas uluran tangan Alendra. Bibir mungilnya membentuk senyum tipis.

"Aku Lala."

-

"Jadi kau kesini mencari sahabatmu?" Tanya Alendra sembari merapikan bajunya yang kusut. Saat ini kalian sedang berada di salah satu kedai makanan di area stasiun.

"Hm, begitulah. Oh ya, apa aku boleh memanggilmu Alen? Kurasa, nama Alendra terlalu panjang." Sahut Lala dengan tangan melambai ke salah satu pelayan kedai makanan tersebut.

"Tentu." Ujar Alen. "...hotdog satu ya, sambalnya yang banyak." Katanya lagi ke pelayan.

"Aku ramen saja. Dan satu botol air mineral." Kata Lala ke arah pelayan yang berdiri di depannya.

"Wow, kau bisa bahasa korea?" Alen bertanya dengan takjub. "...bicaramu lancar sekali."

Lala mengangguk pelan. "Ayahku orang korea. Jadi aku mengerti. Dari kecil aku sudah di ajarkan 2 bahasa sekaligus. Indonesia dan korea."

-

Alen berjalan santai di belakang Lala yang tampak kagum melihat pemandangan apik di kanan-kiri jalan raya yang saat ini ia lewati. Mulutnya tak berhenti menggumamkan kata 'oh' 'wah' 'lucu sekali' 'bersihnya' 'warnanya cerah' dan banyak pujian lainnya.

"Hey belok kanan, jangan lurus nanti kau tersesat." Alen sedikit berteriak saat menyadari Lala semakin jauh berjalan lurus di depannya. Tangannya melambai, dan Lala langsung berlari memutar badan menuju ke arahnya.

"Kenapa tidak bilang daritadi huh." Katanya kesal. "...koper ini berat." Sambungnya lagi.

Alen tertawa mendengar nada bicara Lala yang terkesan lucu dan nyaring itu. Tangannya ia arahkan ke hidungnya, lalu memencetnya dan berkata persis dengan apa yang Lala katakan tadi.

"Kenapa tidak bilang daritadi huh, koper ini berat. Hahahaha cempreng sekali suaramu~"

Lala mengerucutkan bibirnya kesal. Tangannya menjewer telinga lelaki di hadapannya itu. "Idiot." Katanya cuek.

Sadar dengan apa sebutan Lala untuk dirinya, Alen mengacak rambut gadis itu pelan. Membuat gelungan rambut gadis itu rusak dan rambutnya terurai bebas ke belakang. "Jaga bicaramu. Kau yang idiot." Balasnya tak mau kalah.

Lala semakin jengkel. Dengan satu sentakan pasti, tangannya ia gunakan menyisir rambut panjang sebahunya itu dengan tergesa dan mengibaskannya kebelakang. Setelah itu, kakinya menginjak keras kaki Alen. Dengan juluran lidah yang keluar dari mulutnya.

Alen terdiam menatap gadis itu beberapa detik. Matanya menatap tubuh gadis itu dari bawah ke atas.

Ternyata ia cantik juga.

-

"Tidak bisa! Enak saja, nanti pengeluaranku makin banyak." Alen mengomel panjang lebar saat Lala meminta izin menginap di apartemennya untuk beberapa hari kedepan.

"Ayolah, aku akan membayar dan membeli kebutuhanku sendiri. Aku hanya ingin menginap saja, itung-itung hemat uang." Bujuknya sembari menggoyang-goyang lengan pemuda itu.

"...aku bisa tidur di dapur. Di ruang tamu juga bisa. Asal jangan di kamar mandi." Imbuhnya lagi.

Alen mendengus kesal. "Baiklah. Awas saja kalau kau merepotkan."

"...dan hei lepaskan tanganmu, jangan menggandoli(?) tanganku seperti ini."

-

"Sudah 2 hari satu malam. Dan aku masih belum bisa menemukanmu." Lala melingkari kalender berwallpaper kucing di atas meja putih miliknya, eh, maksudnya milik Alen._.

Matanya memandang lurus pemandangan taman bunga yang berada di bawah, samping apartemen Alen.

"Bagaimana? Sudah bertemu dengan sahabatmu?" Alen datang sambil membawa 2 cangkir kopi hitam tanpa gula. Ia menyodorkan salah satu cangkir itu ke arah Lala.

Gadis itu, Lala masih memandang lurus objek di depannya. Ia melamun.

Alen yang merasa di acuhkan, menggoyang bahu gadis itu pelan. "Hei ku bawakan kopi, mau tidak?"

Lala mengerjap kaget saat menyadarai kehadiran Alen di sampingnya. Matanya memandang salah satu cangkir kopi yang di bawa lelaki itu. "Ini untukku ya?" Ucapnya sembari merebut kopi bercangkir abu-abu itu.

Alen mengangkat bahunya acuh. Punggung tegapnya menyandar di pembatas balkon apartemennya itu. "Memang untukmu."

Lalu keduanya terdiam.

Dalam keadaan masing-masing membawa secangkir kopi hitam tanpa gula dan bersandar di pinggiran pembatas balkon, Lala dan Alen menatap lurus langit yang berwarna gelap dengan sedikit bintang disana. Mendung.

Setelah beberapa menit mereka terdiam, Alen menoleh dan mendapati Lala seperti sedang memikirkan sesuatu, walaupun saat ini matanya menatap tepat ke arah bintang.

Lelaki itu berdehem pelan, berusaha mengembalikan fokus gadis itu agar kembali menyadari keberadaannya, bukan di acuhkan seperti ini.

Lala menoleh dan memberikan ekspresi 'ada apa?' saat mendengar 'deheman' tidak ikhlas yang di lontarkan oleh lelaki di sampingnya itu.

Dan, hanya di balas oleh gelengan kepala oleh Alen yang kembali memusatkan dirinya meminum kopi hitam tanpa gula yang terasa setia menemaninya sejak 20 menit lalu.

-

"Sudah 15 hari.."

Hari ini Lala memutuskan untuk berjalan-jalan di tengah taman. Setidaknya, untuk hari ini saja ia ingin mengistirahatkan pikirannya yang lelah barang sejenak.

Sebuah kedai es krim di pinggir sungai menarik perhatiannya. Ia ingat, terakhir membeli es krim ialah saat ia bersama dengan Nana. Setahun lalu.

Setahun saat-saat terakhirnya bersama Nana, gadis berambut blonde yang mempunyai mata seperti bulan sabit ketika tertawa.

Lala menutup matanya erat, ketika perasaan bersalah dan menyesal kembali datang dan bersarang di dadanya.

"Kenapa aku begitu bodoh?" Sesalnya dalam hati.

Kemudian, dengan mata yang mulai berair dan dengan kegelapan awan yang mulai datang, menemaninya perlahan ke kedai es krim bernuansa warna pastel di depannya itu.

"Ah tidak jadi kesana, aku tidak siap." Ujar Lala sembari berhenti melangkahkan kakinya.

Tes, tes, tes.

"Eh?"

Lala mendongak ke atas ketika menyadari titik-titik basah jatuh mengenai rambutnya.

Tes, tes, tes, tes.

"Waaa, hujan aduh bagaimana bagaimana ini?" Lala berlari kecil menuju kedai es krim. Ini bukan waktunya untuk mengatakan tidak siap atau apapun. Karena, kalau ia tidak cepat mencari tempat berlindung, ia akan kehujanan. Dan seperti sekarang ini, ia kehujanan. Karena terlalu lama berfikir.

Sekarang ia kedinginan. Baju dan celana jeansnya basah. Bagus.

"Permisi, mau pesan apa?" Seorang pelayan berseragam biru muda datang dan menyerahkan buku berisi menu-menu es krim kepada Lala.

Lala menggigit bibirnya pelan. Hujan-hujan begini di suruh memesan es krim? Dasar kedai tidak beres. Apa pelayan ini tidak peka kalau maksudku kesini hanya untuk berlindung saja?

"Uhm, nona?"

"Eh anu begini. Sekarang hujan turun, apa ada di sini menyediakan makanan hangat? Rasanya aneh kalau memakan es krim hehehe." Tanya Lala cengengesan ke arah pelayan di depannya itu.

"Tentu." Balas si pelayan sambil mengangguk. Dan berbalik pergi ke arah dapur.

-

Disinilah, Lala sekarang. Di depan gundukan tanah cokelat basah dengan taburan beberapa bunga terhias di atasnya. Tadi, sewaktu Lala masih asyik dengan makanan pesanannya di kedai es krim, Alen meneleponnya dan menjemputnya secara mendadak.

Lala, gadis itu masih memandang lelaki di sampingnya ini dengan penuh tanda tanya. Ia, masih tidak habis pikir dengan perilaku aneh yang tiba-tiba di lakukan oleh Alen. Tidak biasanya lelaki itu murung seperti ini.

"Uhm, Len, bisakah kau jelaskan maksudmu mengajakku kesini?" Lala akhirnya tak tahan juga untuk menanyakan apa yang terjadi. Matanya memandang mata Alen penuh tuntutan penjelasan.

Alen membuka kaca mata hitamnya dan menoleh balas memandang Lala dengan pandangan sedih.

"Aku kehilangan temanku sekaligus sahabatku." Ucap Alen parau. Lala menyimpulkan bahwa Alen sedang menangis. Tangan gadis itu menepuk pundak Alen, berusaha menguatkan. "Lanjutkan ceritamu."

"...Dia gadis periang. Cantik. Selalu tersenyum. Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya, bagaimana kronologi kejadiannya, sampai dia seperti ini." Sambung Alen. Tangannya menunjuk makam di depan kedua manusia itu berdiri.

Lala mendengarkan cerita Alen dengan seksama, merasa tertarik.

"Dia berasal dari warga negara yang sama seperti kita, Indonesia. Yah walaupun dia berambut blonde, tetapi tetap tidak mengurangi keanggunannya. Kejadiannya terjadi pada saat kami berenam, dengan teman-temanku, sedang berwisata mengunjungi Sungai Han. Kami piknik dengan berbagai macam bekal makanan dan minuman. Tiba-tiba, ia mengadu kepada kami bahwa ia merasa pusing dan akhirnya pamit pada kami untuk pulang. Salah satu temanku berinisiatif untuk mengantarnya pulang karena wajahnya sudah pucat."

"Di perjalanan, saat lampu merah, tiba-tiba ia keluar dari mobil dan berlari ke tengah jalan. Temanku yang mengantar berteriak-teriak memanggil namanya. Naas, lampu sudah berganti hijau, ia tertabrak. Ternyata, alasan ia keluar mobil secara tiba-tiba ialah karena ia melihat seorang anak kecil tuna netra berjalan sendirian menyebrang tanpa tongkat, dan itu membuatnya kasihan. Alasannya klasik, ia tidak mau anak kecil itu mati tertabrak sebelum melihat indahnya dunia."

"Ia terluka parah di bagian kepala serta kaki. Dan... meninggal di dalam mobil yang sedang membawanya ke rumah sakit. Ia kehilangan banyak darah."

Alen mengatur nafasnya yang ngos-ngosan akibat bercerita panjang lebar tentang sahabatnya yang ia sendiri berusaha untuk tidak mengingatnya lagi. Entahlah, hatinya sakit ketika mengingat tragedi tragis tersebut.

Alen sudah terbiasa untuk di tinggal sahabat. Tetapi ini berbeda. Tanpa Alen sendiri tahu sebabnya.

"Saat mendengarnya, aku sungguh-sungguh tidak percaya. Bagaimana tidak? Ia masih berusia 20 tahun. Masih sangat muda. Seharusnya perjalanan hidupnya masih panjang. Siapa yang tak akan kehilangan anak sebaik dirinya?"

"Sudah 4 bulan ia pergi meninggalkanku, dan teman-temanku. Aku ingin memperkenalkannya kepadamu sekaligus untuk mengingatnya kembali. Aku berharap kau segera bertemu dengan sahabatmu itu Lala-ya, sebelum terlambat. Jangan seperti aku, yah walaupun kisahmu berbeda dengan kisahku." Alen tersenyum kecut.

Tanpa Lala sadari, mata Alen telah basah untuk yang ke dua kalinya. Kristal-kristal bening telah turun dari tempat persembunyiannya. Lelaki itu menatap batu nisan di depannya dalam. Berusaha memberi tahu seberapa berartinya gadis cantik berhati mulia itu bagi dirinya. Walaupun ia tahu, gadis yang di kasihinya itu tak akan pernah tahu dan sadar. Dunia mereka sudah berbeda.

Lala masih terdiam. Tanpa ia sadari ia ikut menatap batu nisan yang basah sehabis di guyur hujan itu dengan nanar. Tak menyangka bahwa wanita berhati bidadari yang biasa ia dengar di dongeng-dongeng sebelum tidur memang benar adanya.

Mata Lala meneliti satu persatu kalimat yang tertulis di batu nisan berbahan marmer tersebut. Ingin mengetahui nama yang berhasil membuat seorang Alen yang notabenya laki-laki, sampai menangis. Namun nihil, hurufnya banyak yang hilang. Mungkin karena terlalu sering diguyur hujan? Entah.

"Len, boleh aku tahu namanya? Atau fotonya mungkin? Dan, aku turut berduka cita ya.." Lala lagi-lagi menepuk bahu pemuda itu lembut. "Yang kuat." Tambahnya lagi.

Alen mengangguk mengiyakan. "Namanya Vania Alanana. Gadis ceria bermata seperti bulan sabit kalau sedang tertawa, dan ini..." Alen merogoh sakunya, mengambil dompet dan juga mengambil beberapa foto yang langsung ia tunjukkan pada Lala.

Lala tampak terdiam ketika menatap foto yang di tunjukkan Alen padanya. Tiba-tiba badannya ambruk dengan kaki jatuh terduduk di atas tanah samping makam dengan air mata yang jatuh deras. Alen tampak bingung dengan perubahan sikap Lala yang tiba-tiba menangis.

"Hei kenapa menangis? Sudah tak apa.. aku sudah ikhlas dia disana..." Alen mencoba membantu Lala berdiri dan memeluknya.

Lala makin keras menangis. Matanya yang sayu itu melihat ke arah foto dengan tatapan seperti hm, kaget? Menyesal? Sedih? Alen tidak tahu. Bahu gadis itu bergetar hebat.

Alen makin tidak mengerti ketika Lala memeluk batu nisan Nana, sahabatnya dengan erat.

"Ma..maafkan a..aku Na..Nana.."

-

Hai Nana!

Sudah satu tahun kau marah dan sudah satu tahun pula kita berpisah.

Beribu-ribu detik aku lalui tanpamu, tanpa kehadiranmu. Dan beribu-ribu detik pula aku merasa tersiksa.

Aku masih tidak mengerti, mengapa hal-hal buruk selalu terjadi pada kisah klasik persahabatan kita.

Aku masih menyesali kebodohanku yang tidak menyadari perasaanmu pada Bryan, lelaki tampan berkacamata yang mempunyai senyum menawan.

Aku menyesal sempat menerima cintanya dan menerima ajakan kencan darinya tanpa aku tahu kalau sebenarnya dirimu terluka.

Aku yang bodoh atau kau yang pintar berakting?

Satu persatu gambaran persahabatan kita mulai pudar, mulai memutih. Tanpa adanya warna pelangi yang menggembirakan. Tanpa warna yang bermakna.

Kau tahu? Doggie, merindukanmu. Ia selalu menggonggong dengan keras setiap kali aku membawanya berjalan-jalan melewati depan rumahmu.

Dan adakah kau peduli tentang kerinduanku?

Rindu ini, tawa ini, kebahagiaan ini, kegilaan ini, terus datang dan menyiksa. Tanpa tahu harus bagaimana.

Rasa bersalah itu juga menusuk jantungku dan menghimpit tubuhku. Aku sampai hampir depresi karena rasa bersalah dan sesalku itu.

Mungkin karena sedikit demi sedikit kemampuan imajinasiku menghilang, aku menatap datar foto kenangan kita. Aku tutup mataku, berusaha masuk ke dalam atmosfer jiwaku yang paling dalam, namum aku tidak lagi bisa merasakan kehangatan tawamu yang selalu menghiburku. Hari-hariku hampa. Tanpa makna.

Nana sahabat pirangku,

Aku mulai menyerah ketika suatu akhir dari persahabatan kita sudah ada di depan mata. Tanpa alasan ataupun penjelasan yang jelas. Aku lelah dan terluka. Semuanya sudah menghilang, dan bahkan menjadi hitam;gelap.

Dengan segala penyesalan yang bertambah dan pertanyaan yang masih berputar-putar di kepala, aku ucapkan selamat tinggal untukmu, sahabatku.

-end-